ISO DIS 26000 Guidance on Social Responsibility direncanakan akan dipublikasikan sebagai standar internasional pada akhir 2010. Sidang ke delapan ISO TMB/WG SR akan membahas dokumen ISO DIS 26000 pada sidang ke delapan di Copenhagen pada bulan Mei 2010, dan hasil sidang akan diedarkan sebagai FDIS untuk diedarkan dalam pemungutan suara terakhir. Untuk menggali aspirasi negara anggota yang tergabung dalam pembahasan ISO DIS 26000, ISO melaksanakan workshop ke berbagai negara, termasuk Asia.

Workshop yang diselenggarakan oleh ISO untuk wilayah Asia bertujuan untuk : 1) Meningkatkan awareness dan pemahaman atas ISO 26000; 2) Review materi dan proses perumusan ISO 26000; 3) Mempertimbangkan hasil pemungutan suara; 4) Mendiskusikan implikasi dari standar bagi organisasi ; dan 5) Mengembangkan inisiasi dalam pelaksanaan ISO 26000.
Peserta yang diundang oleh ISO berasal regional Asia Tenggara, Asia Timur dan Asia Selatan dan berasal dan stakeholder Pemerintah termasuk NSB (National Standardization Body), Pekerja, Konsumen, LSM dan SSRO (Services, Support, Research and Others). Negara yang hadir dari 3 wilayah regional tersebut adalah Afghanistan, Bangladesh, China, Fiji, Indonesia, Iran, Korea, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Papua New Guinea, Philippines, Sri Lanka, Thailand dan Vietnam. Peserta dari Indonesia diwakili oleh Nurasih Suwahyono (wakil dari government) dan Suharman Nurman (wakil dari Service, Support, Research and Other).
Hari pertama workshop, 3 Maret 2010 merupakan open forum yang dapat dihadiri oleh peserta yang mempunyai interes di bidang tanggung jawab sosial, tidak hanya terbatas pada anggota mirror committee. Open forum menampilkan wakil dari Thailand sebagai negara yang dianggap sudah menerapkan tanggung jawab sosial berbasis ISO 26000 serta wakil dari Vietnam sebagai negara yang memberikan suara "NO" atas dokumen ISO DIS 26000. Disamping itu juga menampilkan pembicara dari Sri Lanka yang merupakan negara yang baru bergabung pada bulan Desember 2009 dalam mirror committee. Model workshop ini dimaksudkan oleh ISO untuk sharing dan exchange pengalaman dalam pemahaman ISO 26000. Disamping itu juga untuk memahami negara yang memberikan suara "NO" terhadap ISO DIS 26000.
Workshop tanggal 4-5 Maret 2010 hanya dihadiri oleh mirrorr committe dari negara yang termasuk dalam regional Asia Tenggara, Timur dan Selatan. Pembahasan ditekankan pada materi ISO DIS 26000. Pembahasan umumnya mempertanyakan proses pemungutan suara terhadap dokumen ISO DIS 26000, bagaimana mekanisme penerapan ISO 26000 oleh SME atau UKM setelah dipublikasikan menjadi standar internasional. Dari hasil pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa : 1) Pada umumnya mirror committee menginginkan penerjemahan ISO 26000 ke dalam bahasa masing-masing negara yang merupakan negara yang tidak berbahasa Inggris. 2) Banyak dipertanyakan siapa yang akan mengkoordinasikan implementasi ISO 26000, apakah NSB atau stakeholder Pemerintah, karena tidak setiap negara mempunyai NSB yang merupakan salah satu lembaga pemerintah. 3) Sertifikasi sebagai bukti pelaksanaan tanggung jawab sosial oleh suatu ordapat diterapkan tergantung dari situasi dan kondisi negara anggota. 4) Peserta mengharapkan adanya pemikiran dari ISO tentang penerapan ISO 26000 bagi UKM.
ISO akan menyampaikan hasil regional workshop ini kepada ISO Central Secretariat sebagai materi bahasan pada sidang ke delapan ISO TMB/WG SR di Copenhagen pada bulan Mei 2010.