Badan Standardisasi Nasional Badan Standardisasi Nasional
 
Bookmark and Share
BSN Menjadi Tuan Rumah ISO/KATS Regional Workshop 2012 Tentang Pendidikan Standardisasi :


07/05/2012

Sebagai salah satu wujud peran aktif dalam pengembangan pendidikan standardisasi, pada bulan Mei 2012 ini, Badan Standardisasi Nasional (BSN) menjadi tuan rumah beberapa event internasional terkait dengan pendidikan standardisasi yang diselenggarakan di Bali bekerjasama dengan organisasi-organisasi standar internasional.

Kegiatan pertama dari rangkaian event internasional tersebut adalah Regional Workshop on Enhanching Collaboration Between National Standard Bodies and Academia yang diselenggarakan pada tanggal 7 – 9 Mei 2012 di Discovery Kartika Plaza Hotel, Kuta, Bali. Acara ini merupakan kerjasama antara The International Organization for Standardization (ISO) dengan Korean Agency for Technology and Standards (KATS) dan BSN.

Workshop ini merupakan kegiatan regional bagi negara-negara berkembang di Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara dalam rangka diskusi dan berbagi pengalaman dalam pengembangan kegiatan pendidikan standardisasi sesuai dengan ISO Action Plan 2011-2015 bagi negara-negara berkembang. Selain itu, workshop juga bertujuan untuk menyusun program bersama dalam pengembangan pendidikan standardisasi khususnya di tingkat perguruan tinggi. Workshop diikuti oleh 50 peserta yang merupakan pimpinan atau staf Badan-badan Standardisasi dari negara-negara berkembang di Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara.

Acara dibuka secara langsung oleh Kepala BSN, Dr. Bambang Setiadi pada senin pagi (07/05/2012). Dalam kesempatan tersebut, Dr. Bambang Setiadi menyampaikan bahwa workshop ini merupakan rangkaian kegiatan regional ISO DEVCO yang bertujuan untuk mendukung negara berkembang dalam menentukan program, menargetkan universitas dan untuk mengembangkan atau memperkuat pendidikan standardisasi. Saat ini posisi Ketua ISO DEVCO sendiri dijabat oleh Dr. Bambang Setiadi.


Dr. Bambang menambahkan, kesadaran masyarakat terhadap standardisasi masih sangat terbatas, terutama untuk akademisi dan industri. Namun, tren terbaru kesadaran akan perlunya pendidikan standarisasi semakin meningkat di seluruh dunia. Banyak dari Badan Standardisasi Nasional di negara-negara berkembang memulai kerja sama dengan universitas untuk membangun pendidikan standardisasi. Kita semua percaya bahwa universitas dapat memainkan peran penting untuk memberikan ahli standardisasi di masa depan.

Dr. Bambang mendorong para peserta untuk mengambil keuntungan dari workshop ini. “Kita harus komit untuk mengelola sumber daya kita secara optimal. Saya yakin bahwa lokakarya ini hari ini akan mencapai tujuan untuk membangun serangkaian pedoman praktek yang baik pada pendidikan standardisasi,” demikian ungkap Dr. Bambang Setiadi mengakhiri sambutannya.

Acara juga dibuka dengan sambutan dari Strategic Adviser to The Secretary General of ISO, Dr. Daniele Gerundino serta Director of International Standards Cooperation Division of KATS, Dr. Soyoung Joo.

Dalam kesempatan workshop, disampaikan hasil survey pendidikan standardisasi yang dilakukan oleh ISO dan Erasmus University yang disampaikan oleh Associate Professor Standardization Erasmus University, Dr. Henk de Vries. Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap 73 NSB dari seluruh dunia, 26 universitas, serta 5 negara yang belum memiliki kerjasama pendidikan, diperoleh beberapa kesimpulan yaitu: dari sisi NSBs ada banyak alasan yang baik untuk melihat kerja sama dengan universitas; dari sisi kerjasama universitas kurang jelas; untuk meningkatkan kerja sama, inisiatif bottom-up dan pendekatan strategis dan struktural yang direkomendasikan untuk sisi pendidikan. Untuk sisi penelitian, kontak dengan profesor universitas, pengakuan, dan insentif keuangan adalah penting; untuk mengatur langkah selanjutnya, pendekatan yang lebih sistematis dianjurkan; pentingnya MoU dan kerjasama di tingkat internasional.

Sementara itu, President of the Japanese Standards Association (JSA), Prof. Masami Tanaka berkesempatan menyampaikan pengalaman Jepang dalam mengembangkan pendidikan standardisasi. Jepang telah memulai Program JISC untuk pendidikan standardisasi tahun 2005 – 2010 dan terus memperluas jumlah lembaga akademik yang memiliki program pendidikan standardisasi. Jepang juga telah menerbitkan beberapa buku yang terkait dengan pendidikan standardisasi serta aktif mengambangkan pendidikan standardisasi di Negara berkembang.


Kepala BSN, Dr. Bambang Setiadi juga berkesempatan mempresentasikan program pendidikan standardisasi di Indonesia. BSN menyadari pentingnya pendidikan standardisasi, oleh karena itu, program untuk menanamkan kesadaran dan pemahaman standardisasi kepada masyarakat dimulai sejak dini mulai dari sekolah dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi.

Sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang mengembangkan dan membina kegiatan standardisasi di Indonesia, Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah merintis pengembangan pendidikan Standardisasi sejak tahun 2004. Hingga saat ini BSN telah menjalin kerjasama dengan 28 perguruan tinggi di Indonesia di bidang pendidikan standardisasi. Selain aktif dalam pengembangan pendidikan Standardisasi di Indonesia, BSN juga aktif dalam pengembangan standardisasi di level regional maupun internasional dalam International Cooperation on Education about Standardization (ICES); World Standar Cooperation (WSC); APEC Sub-Committee on Standard and Conformance – Standards Education Initiative; serta EU-Asia Link Programme.  

ISO/KATS Regional Workshop 2012 selanjutnya diisi dengan diskusi kelompok, dimana para peserta saling bertukar pikiran dan pengalaman tentang pendidikan standardisasi di Negara masing-masing.(arf/rul)