Awan mendung yang menggelayuti pantai Kuta, Bali, Sabtu (12/05/2012) tidak membuat semangat para peserta ICES Conference dan WSC World Academic Day 2012 luntur. Mereka sangat antusias mengikuti kegiatan Ada SNI di Bali. Kegiatan yang dilakukan adalah memainkan “kulkul”, alat komunikasi tradisional khas Bali. Alat ini biasanya digunakan untuk memanggil masyarakat di sebuah banjar untuk berkumpul atau melaksanakan ibadah. Setiap ketukan pada “kulkul” memiliki arti yang berbeda-beda, namun aturan tersebut berlaku di seluruh Bali. Bisa dikatakan bahwa “kulkul” merupakan sebuah standar lokal yang berlaku di Bali.
Inspirasi tersebut dapat juga diaplikasikan pada Standar Nasional Indonesia dalam bentuk national differences sehingga sangat memungkinkan SNI dapat melindungi dan meningkatkan daya saing produk Indonesia.
Selain memainkan “kulkul” para peserta juga diberi kesempatan untuk memainkan layang-layang dengan symbol bendera dari masing-masing Negara peserta dan simbol-simbol standar dalam dunia pariwisata. Acara yang dihadiri oleh Sekretaris Utama BSN, Yoes Usman Suhendar, mampu menarik minat peserta maupun wisatawan yang kebetulan berkunjung di pantai Kuta. Dalam kesempatan ini, Yoes Usman menerbangkan layang-layang dengan logo BSN.
Memainkan layang-layang dengan simbol bendera Negara memiliki arti yang mendalam bagi peserta dari Belanda, dia mengibaratkan seperti berhasil memenangkan medali emas di event olimpiade karena berhasil mengibarkan bendera negaranya di angkasa.
Seorang professor peserta dari Jepang, menyampaikan apresiasinya kepada Sestama BSN karena telah mengingatkan kenangannya bermain layang-layang dua puluh tujuh tahun yang lalu.
Dengan terbangnya seluruh layang-layang maka simbol-simbol standar menari di angkasa semakin menpercantik pantai Kuta dengan warna-warni layangan tersebut. (4d9)
|